Pages - Menu

Selayang Pandang

"Tak seorang pun mampu mendefenisikan cinta dengan sempurna sebab tak seorang pun juga mampu mencintai secara sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, termasuk dalam hal mencintai kita, anda dan saya !"

About Me

My photo
Hi. saya JP / Jansn / Pur. Lahir di tanggal 17 September. Sukses terbesarku ialah ketika setiap pribadi yang mengenalku, tersenyum bahagia saat mendengar namaku dan mereka katakan, 'aku mengasihi dia'.
Showing posts with label Kutipan Inspirasi Jansiom Purnomo. Show all posts
Showing posts with label Kutipan Inspirasi Jansiom Purnomo. Show all posts

Thursday, November 22, 2018

NADA ITU MELANKOLIS

NADA,
HANYA INGIN MENGALUN SEDERHANA
MENYEJUKKAN SETIAP HATI
YANG MUDA YANG TERKASIH
YANG TUA YANG DIHORMATI

NADA
NADA ITU MELANKOLIS
NADA ITU PEMBELAJAR SABAR
NADA ITU PENJAGA
MESKI KADANG LAHIRKAN SINIS
MESKI NADA KADANG EGOIS
NADA,
NADA ITU YANG MELANTUNKAN KEINGINAN UNTUK MENYATU

NADA PERNAH SALAH
SALAH DALAM TONE
SALAH DALAM TEMPO
NADA PERNAH MENGECEWAKAN SANG PEDENGAR

PAHAMI JUGALAH NADA,
YANG HANYALAH BERUSAHA MENJAGA DENGAN PEMBERIAN KECIL
YANG PERNAH MEMASTIKAN TEMPAT TERBAIK SETELAH BERPELUH
YANG HANYALAH BERUSAHA MEMASTIKAN KEADAAN TERBAIK DI JAUH DAN DI LAMANYA PERJALANAN
DAN NADA
MUNGKIN HANYALAH PEMBELAJAR SABAR DIDUA MASA YANG MEMPERSEMBAHKAN LAMBANG IKATAN BERMETERAIKAN SEBUAH NAMA

SAAT NADA MENJAGA,
SAAT NADA MEMASTIKAN,
HINGGA SAAT NADA MEMPERSEMBAHKAN,
BISA SAJA BIASA BAHKAN TAK TERLIHAT BERNILAI

HARUSKAH NADA HANYA TERNILAI DI 90 HARI TERKAKHIR ?
KEMANAKAH LANTUNAN YANG DIDENGARKAN NADA DI LEBIH DARI 2 MASA ?
MESKI RATUSAN PENJELASAN DILANTUNKAN,
HINGGA KEBENARAN TERSURAT.





DIKUTIP "......."







Monday, April 24, 2017

PROSES IMAN DALAM KESABARAN

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah finman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan - Yeremia 29 : 11

Mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak ? Adakah sesuatu apapun yang mustahil bagi TUHAN ? Maka mengandunglah Sara, lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham dalam amsa tuanya pada waktu yang telah ditetapkan, sesuai firman Allah kepadanya. Adapun Abraham berumur seratus tahun ketika Ishak lahir. Tuhan memberikan sesuai dengan waktu yang ditetapkan - Kejadian 17 dan 21.

Jadi bekerjalah Yakub 7 tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi 7 tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel - Kejadian 29 : 20
Demikianlah ia bekerja pula pada Laban 7 tahun lagi- Kejadian 29 : 30


Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjadikannya, setia - Ibrani 20 : 23

Agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah - Ibrani 6 : 12

Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu - Filipi 1 : 3

Dan aku selalu mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam - 2 Timotius 1: 3

Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya. Panjang sabar lebih baik dari pada tinggi hati - Pengkhotbah 7 : 8

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya - Pengkhotbah 3 : 11

Friday, September 2, 2016

KEPEMIMPINAN SEORANG "PEMIMPIN ORKESTRA"

Dalam memahami makna kepemimpinan, saya sering terinspirasi oleh sebuah pertunjukan orkestra. menurut saya, ada banyak hal yang bisa dipelajari dari seorang konduktur. saat pertunjukan dimulai, seorang konduktor (pemimpin orkestra) harus tampil didepan, dengan jarak tertentu, menghadap seluruh anggota timnya agar bisa memimpin pertunjukan. Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus selalu tampil didepan untuk bertindak dan meyampaikan visi serta mengambil tanggungjawab atas hasil kerja anggotanya.

Pemimpin orkestra juga berdiri sendiri dengan jarak tertentu dari anggota orkestra dan penonton. Hal ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin kadang kala harus berdiri diantara pilihan, dan ia harus mengambil suatu sikap atau keputusan diantara pilihan yang ada.

Saat akan memulai memimpin orkestra, konduktor harus membelakangi penonton. membelakangi penonton untuk kemudian memimpin suatu pertunjukan orkestra memiliki makna yang dalam. Dia harus menatap seluruh anggotanya, membangun kesatuan hati dan jiwa dalam menghayati setiap ketukan dan irama agar menghasilkan alunan suara yang kompak, harmoni dan indah didengar.

Dalam setiap pertunjukannya, seorang pemimpi orkestra mengajak penonton untuk menikmati hasil kerja sama tim yang luar biasa-yang tentu saja berasal dari kemampuan terbaik setiap pemain musik. Suatu momentum dimana setiap anggota dapat memberikan kontribusi mereka yang terbaik dalam setiap lagu dan membiarkan penonton memberikan penilaiannya. Pada akhir pertunjukan, pemimpin orkestra kembali menghadap penonton dan memberikan hormat yang menandai telah berakhirnya suatu pertunjukan musik. Penonton pun memberikan apresiasi dengan bertepunk tangan.

Dan, seorang konduktor akan puas apabila dapat menampilkan perpaduan musik yang harmonis, diwarnai dengan penjiwaan yang kental dan sempurna; suatu penampilan yang memberikan kepuasan bagi pemain musik maupun penonton.

Seorang pemimpin sebaiknya menyerupai konduktor. Apapun yang ia kerjakan hendaknya tidak didasarkan padasuatu popularitas atau hanya untuk menyenangkan orang-orang tertentu, melainkan berfokus pada hasil yang memberikan kepuasan dan sukacita bagi banyak orang.

Ada banyak pandangan serta konsep tentang peran dan harapan seorang pemimpin. Namun kepemimpinan seorang "pemimpin orkestra" memberikan makan mendalam bagi saya dalam melihat peran seorang pemimpin. Menurut saya, kepemimpinan orkestra memampukan saya ketika menikmati tugas dalam kehidupan karier saya.


Diambil dari buku "Be a great Leader!" karangan Erwin Tenggono

Hal. 85 Buku CEO WISDOM 2 - A. M. LILIK AGUNG

Monday, April 20, 2015

Resume KEPRIBADIAN TAK BERKEPRIBADIAN



THE BIG FAMILY
INTELEKTUAL
[Penganut agama “X”]

“PEGANGAN KAMI”
[Agama “X”]
&
SCIENTIFIC
OTAK                         : JERMAN
SEMANGAT              : JEPANG
HATI                          : [Kota suci agama “X”]
KEPRIBADIAN        : INDONESIA

“Mahkluk macam apa ini ?”
Mengapa Sang Indonesia hanya kebagian kursi menteri kepribadian ? Semua jabatan ini diisi menteri dari luar negeri. Mungkinkah otak, semangat dan hati Indonesia lebih rendah, lembik, dan hina dibanding otak Jerman, semangat Jepang dan hati kota suci luar negeri ? Rupanya di mata kebanyakan kita, sapi tetangga masih lebih montok disbanding sapi sendiri.
Tahun 2005, budayawan Kuntowijoyo menulis di harian Kompas :
… Kita sekarang jadi bangsa klien (klien yang tergantung pada patron).
Melaluimodal dan produk, kita menjadi kliean Amerika, Eropa, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, dan RRC. Melalui tenaga kerja Indonesia (TKI/tenaga kerja wanita (TKW), kita menjadi klien Amerika, Jepang, Amerika Latin, Taiwan, dan India. Melalui utang, kita menjadi klien IMF, Bank Dunia, ADB, CGI dan IDB.
Pada tahun 1945, kita sudah berubah dari bangsa terjajah menjadi bangsa mandiri. Kemudian kita terpuruk menjadi bangsa klien. Kalau salah urus, dari bangsa klien kita bisa jadi bangsa kuli, dari bangsa kuli menjadi “gelandangan di rumah sendiri” – istilah Emha Ainun Nadjib.

Lanjut kata Kuntowijoyo :
Sebagai bangsa klien, kita tidak merasa bangga bila belum mengonsumsi barang-barang impor, yang tampaknya buatan luar negeri atau setidaknya barang-barang produk franchise.

Mental klien adalah mental rusak karena ia menggrogoti penghargaan kita kepada diri sendiri dan melumpuhkan kemandirian kita. Ia lahir dari jiwa silap (dan juga kalap) yang memandang orang luar selalu lebih baik, dan tidak bisa memandang diri sendiri cukup baik. Papan namanya rendah diri bukan rendah hati.
Sastrawan Remy Sylado secara berkelakar : satu nusa, satu bangsa, dua language. Hatinya dikecutkan oleh para pesolek bahasa:
Yang saya maksudkan pesolek di sini adalah orang-orang terpelajar, terutama mereka yang saat ini lazim disebut sebagai “elit politik”, yang dalam rangka tampil beda di media pers, televisi ataupun Koran dan majalah, lantas berbicara kenes dengan kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang penuh digincui dengan kata-kata bahasa Inggris. Karuan timbul rasa masygul, jangan-jangan ikrar pemuda pada 1928 sekarang ini melaju ke prayojana baru: satu nusa, satu bangsa, dua language. Terus terang, saya tidak melihat ini sebagai isyarat kemajuan, tapi sebaliknya, kemunduran. Saya juga tidak melihat ini sebagai sesuatu yang sekedar menyedihkan tapi malah memuakan.
Cocok ! Ini menyingkapkan watak memalukan di balik kepribadian klien. Ragu harkat diri dan jadi klien bahasa Inggris dalam hal ini sama dengan rasa rendah diri dan gandrung asing yang disebut Kuntowijoyo.

Otak Indonesia
Lama sebelum leluhur orang Jerman menyeberang dari Kaukasus ke negerinya yang sekarang ini, orang Nusa Selatan/Austronesia, leluhur sebagian besar orang Indonesia, telah merambah sepertiga wilayah bumi dengan menualangi lautan sejak 3.000 tahun SM. Daerah yang mereka jelajahi dan duduki merentang dari Taiwan di utara sampai Selandai Baru di selatan dan dari Rapa Nui (sekarang wilayah negara Chili) di timur sampai Madagaskar (di kaki benua Afrika) di barat. Mereka adalah “para pelaut dan penjelajah par excellence dunia pra modern” yang tertawa di depan ide bumi datar.
Borobudur – siapa yang telah memecahkan misteri pembangunannya ? Sampai hari ini para pakar berkerut dahi membayangkan cara Gunadharma, sang arsitek, menjulangkan biara semegah itu. Seorang penulis melaporkan kebingungan mereka kepada kita:
Sampai saat ini, ada beberapa hal yang menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalamukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halam candi sampai ke puncak, alat Derek apa yang dipergunakan ? Mengingat pada waktu itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-angkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas ?

Semangat Indonesia
Semangat Indonesia adalah semangat yang dibentuk oleh bauran tabiat khas suku-sukunya. Dalam keras dan dalam lembut, tabiat-tabiat ini saling melengkapi seperti badak dengan burung jalak. Semangat Indonesia bukan semangat berjelajah dan meluas saja, melainkan semangat berpadu dan bersatu juga.
Semangat Jawa dengan gotong royongnya atau semangat Minahasa dengan mapalus-nya berjalan seiring semangat Melayu: “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Semangat Ambon dengan pela-gandong-nya yang memberikan ruang kepada rakyat yang berbeda suku dan agama untuk hidup rukun dan bahu-membahu.
Madura dijiwai konsep malo  (malu) yang berkaitan erat dengan harga diri. Abdul Latief Wiyata, “bagi warga Madura, lebih baik mati disbanding ada tetapi tiada. Kalau sudah malo berlaku ungkapan tembang pote mata, angor mate katelak tolang [daripada berputih mata, lebih baik mati kelihatan tulang]. Orang Aceh bersifat pantang menyerah, selama masih melihat oeluang untuk menang. Bilamana kekuatan musuh terbaca sedemikian besarnya sehingga tidak diragukan lagi musuh akan menang, barulah mereka akan meletakkan senjata.
Semangat Makassar abad ke-17 yang “mengembangkan aksara asli Indonesia sebagai alat bahasa bagi tujuan yang bersifat modern”. Mereka bahkan meninggalkan “suatu hukum niaga dalam pelayaran, yang disebut Ade’Allopiloping Bicaranna Pabbalu’e  dan tertulis pada lontar oleh Amanna Gappa.
Semangat Bali menjalin perdagangan ekspor-impor dengan Singapura dan Australia sehingga begitu kaya pada abad-19. Mereka mampu melengkapi pasukan mereka dengan senapan muktakhir untuk ukuran masa itu, seperti Winchester dan Spencer.

Hati Indonesia
Hal yang mengusik dari ungkapan “hati kota suci” bukanlah muatan rasa hormat didalamnya kepada wilayah/bangsa asal akidah kita, melainkan muatan kecenderungan untuk menjadi klien budaya bangsa asal akidah itu. Ini membuat “hati Indonesia” jadi barang langka pada masa sekarang ini. Terlalu banyak orang Indonesia  yang senang berkiprah sebagai penganut budaya bangsa pembawa agamanya, bukan sebagai penganut agamanya semata.
Gus Dur diprotes waktu menyarankan mengganti assalamualaikum dengan selamat pagi/siang/sore/malam, tetapi orang Nasrani Indonesia malah tampil ber-shalom ria unutk menandingi assalamualaikum. Lama setelah masjid Demak tegak dengan corak Jawanya yang kental, banyak masjid Indonesia terkini membuat orang merasa berada di Jazirah arab. Sementara itu, banyak gereja Indonesia sejak dahulu sampai sekarang membuat orang merasa berada di Eropa Barat atau Amerika Utara. Adakah hati Indonesia yang bijak menerima agama dari bangsa lain tanpa menjadi klien budaya bangsa itu ?

Ucapan Gus Dur di bawah ini dapat menjadi cermin:
Masjid beratap genteng, yang sarat dengan simbolisasi lokalnya sendiri di negeri kita, dituntut ‘dikubahkan’. Budaya Wali Songo yang ‘serba Jawa’, Saudati Aceh, Tabut Pariaman, didesak ke pinggiran oleh qasidah berbahasa Arab. Bahkan ikat kepala loka (udeng atau ikat di Jawa) harus mengalah kepada sorah ‘merah putih’ model Yasser Arafat.
….
Anehkah kalau terbetik di hati adanya keinginan sederhana: Bagaimana melestarikan akar-akar budaya lokal yang telah memiliki Islam di negeri ini ? Ketika orang-orang Kristen meninggalkan pola Gereja Katedral ‘serba Ghotik’ di kota-kota besar dan ‘gereja kota kecil’ model Eropa, dan mencoba menggali arsitektur asli kita sebagai pola baru bangunangereja, layakkah kaum muslimin lalu ‘berkubah’ model Timur Tengah dan India ? Ketika ekspresi kerohanian umat Hindu menemukan vitalitasnya pada gending tradisional Bali, dapat kaum muslimin ‘berkasidahan Arab’ dan melupakan ‘pujian’ berbahasa lokal tiap akan melakukan sembahyang ?
Juga, mengapa harus menggunakan kata ‘salat’, kalau kata ‘sembahyang’ juga tidak kalah benarnya. Mengapahkan harus ‘dimusalakan’, padahal dahulu toh cukup langgar atau surau ? Belum lagi ulang tahun, yang baru terasa ‘sreg’ kalau dijadikan ‘milad’. Dahulu tuan guru atau kiai, sekarang harus ustadz dan syekh, baru terasa berwibawa. Bukankah ini pertanda Islam tercabut dari lokalitas yang semula mendukung kehadirannya di belahan bumi ini ?

Sampai saat ini orang Indonesia ibarat cecak muda yang gundah ketika pertama kali kehilangan ekor. Ia jadi rendah diri melihat kadal dan bunglon tetangganya yang masih berekor utuh. Sebenarnya kehilangannya sementara saja, karena ekor itu pasti tumbuh lagi. tetapi rasa rendah diri begitu menguasainya sehingga ia menganggap hina keadaannya sebagai cecak. Ia mulai meniru tingkah kadal dan bunglon. Ia mulai tinggal melulu di alam terbuka. Ia belajar melata di rumput supaya bisa seperti kadal dan kadang-kadang mencelup diri dalam pewarna supaya tubuhnya bisa sewarna dengan tempat piajakannya seperti bunglon. Ia lupa bahwa kehebatan cecak merayap tegak atau terbalik tidak dimiliki kadal. Ia lupa bahwa kemuliaan cecak “yang dapat ditangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja” tidak dimiliki bunglon. Seumur hidup, bahkan setelah ekornya tumbuh lagi, ia Cuma jadi tawanan gaya hidup kadal dan bunglon yang tidak pernah pas dengan tabiat sejatinya.
Dengan otak Indonesia, semangat Indonesia, dan hati Indonesia, barulah dapat terbentuk suatu kepribadian yang sejati Indonesia – bukan yang tak berkepribadian. Kalau di hutan pohon-pohn ditebangi dan satwa dihalau, lalu prasarana dibangun, dan pelan-pelan permukiman serta pertokoan didirikan, tempat itu takkan disebut hutan lagi. Dengan cara yang sama kita bisa memahami bahwa otak asing, semangat asing dan hati kota suci asing tak mungkin membentuk kepribadian Indonesia yang sejati.
Adalah baik untuk memperkaya diri dengan belajar dari otak Jerman, semangat Jepang dan hati kota suci luar negeri. Tetapi “memperkaya” janganlah berarti meniadakan daya-daya yang sudah ditanam Allah dalam diri kita.



Sumber: Bab V Buku Demi Allah dan Demi Indonesia - Samuel Tumanggor

Himne-Himne Agung Para Musafir

Ketika di pintu gerbang emas aku berdiri,
Segala deritaku, segala dukaku berlalu,
Betapa sedap mendengar maklumat keberkatan:
Masuk, hamba setia, selamat datang di rumah.

***
Sering kita tempuh jalan di hadapan kita
Dengan hati yang lelah dan beku.
Sering kita berjerih di tengah kesuraman
Dan lading kita jauh terpencil.
Tetapi “Marilah, hai kamu yang terberkati”
dari Sang Juruselamat
Akan membayar segala pekerjaan kita
Ketika kita berkumpul pagi itu
Di tempat kabut hilang.

***
Ketika perjuangan kita di sini berakhir
Dan perlombaan kita di bumi selesai
Ian akan bersabda, asalkan kita setia,
“Selamat datang di rumah, anak-Ku, baik sekali.

Sumber: Buku Demi Allah dan Demi Indonesia - Samuel Tumanggor, hal 158-159

Friday, April 17, 2015

Kristus adalah Tuan dan kamu hamba-Nya

Untuk golongan pejabat pilihan manakah perkataan ini diucapkan ?
Kepada raja-raja congkak yang membanggakan hak ilahi ?
Ah, bukan !
Terlalu sering mereka hanya melayani diri mereka sendiri atau Setan dan melupakan allah yang dalam kesabaran-Nya mengizinkan mereka memasang mimik mulia mereka untuk waktu singkat.
Kalau begitu, apakah sang rasul berbicara kepada mereka yang disebut "bapa-bapa yang amat terhormat di dalam Allah", para uskup, atau "diaken agung yang mulia" ?
Tentu saja tidak.

Paulus tidak tahu apa-apa tentang jabatan-jabatan ini yang adalah buatan manusia belaka.
Kata-kata ini tidak juga diucapkan kepada para gembala dan guru, atau kepada orang yang kaya dan terpandang diantara orang percaya, tetapi kepada para hamba, ya, dan kepada para budak.

Diantara khalayak pekerja keras, para tukang, para pekerja harian, para pembantu rumah tangga, para bujang dapur, sang rasul menemukan -  sebagaimana kita pun masih menemukannya - beberapa orang pilihan Tuhan berkata kepada mereka, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti unutk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah Tuan dan kamu hamba-Nya".

Perkataan ini menjadikan mulia pekerjaan duniawi yang rutin dan melelahkan serta membubuhkan lingkaran suci di sekeliling pekerjaan yang paling rendah.

Membasuh kaki mungkin pekerjaan hamba, tetapi membasuh kaki-Nya adalah pekerjaan mulia. Membuka tali kasut adalah pekerjaan hina, tetapi membuka kasut Tuan yang agung adalah kehormatan ningrat.

Toko, lumbung, dapur, dan bengkel pandai besi menjadi rumah ibadat ketika pria dan wanita melakukan segala sesuatu bagi kemuliaan Allah ! 

Maka "pelayanan ilahi" bukanlah soal beberapa jam atau beberapa tempat, melainkan seluruh kehidupan menjadi kudus bagi Tuhan, begitu pula setiap tempat dan barang, sedemikan kudus sebagaimana Kemah Suci dan kaki pelita emasnya.


- C. H. Spurgeon "pangeran para pengkhotbah" pengikut Johanes Calvin

Ungkapan Isaac Watts

Ketika kuamati salib ajaib,
Tempat Sang Pengeran Mulia Wafat,
Perolehanku yang termahal kuanggap rugi,
Dan kupandang jijik segala kebanggaanku.

Pantang bagiku, ya Allah, untuk bermegah,
Selain dalam kematian Yesus, Tuhanku;
Segala hal sia-sia yang teramat memikatku -
Kukurbankan demi darah-Nya.

Lihat, dari kepala, tangan, dan kaki-Nya,
Duka dan Kasih bercampur mencucur;
Pernahkah bertemu kasih dan duka seperti itu,
Atau duri menyusun mahkota sehebat itu ?

Kalaulah seluruh alam raya milikku,
Itu masih terlalu kecil untuk jadi persembahan:
Kasih yang begitu menakjubkan, begitu ilahi,
Menuntut jiwaku, hidupku, dan segala-galaku.

Kata - Kata Bijak dalam Buku Demi Allah dan Demi Indonesia (Samuel Tumanggor)

Uchimura Kanzo, Aku bagi Jepang, Jepang bagi Dunia. Dunia bagi Kristus. Dan segala sesuatu bagi Allah.

Vous etre a Paris, donc essayes de parler en Francais, s'il vous plait (Anda berada di Paris, harap mencoba bahasa Perancis)

Soekarno, Airnya kamu minum, nasinya kamu makan, karena itu kita semua harus mengabdi padanya, pada Ibu Pertiwi Indonesia.

Kenasranian dan keindonesiaan adalah dua raga yang berbeda, sebagaimana surga berbeda dengan bumi, tetapi keduanya menunggal dalam diri kita, warga surga sekaligus warga bumi. Waktu kita menjadi Nasrani, kita tetap orang Indonesia. Kanasranian itu tidak memunahkan keindonesiaan kita, malah memurnikan dan menonjolkannya.

R. A. Kartini, Saya dapat menjadi marah sekali, kalau saya mendengar orang mengatakan : "Hindia brengsek." Orang terlalu sering lupa, bahwa "negeri kera yang brengsek" itu telah mengisi beberapa saku kosong dengan emas, kalau mereka pulang ke tanah air seteleh tinggal di sini beberapa tahun.

Suwardi Suryaningrat (era Kebangkita Nasional), adalah rasa cinta akan tanah air bersatu kita semua, yang sementara masih bernama Hindia Belanda. Nasionalisme Hindiawi adalah semboyanny dalam persaudaraan kita. Bahu-membahu berdirilah orang Sumatra, orang Minahasa, orang Ambon, orang JAwa dan semua golongan-golongan Indonesia lainnya yang terjajah itu siap sedialah untuk memperjuangkan keselamatan kita bersama, demi idam-idam kita semua negara Hindiawi, dimana akan termasuk semua orang yang mengaku tanah kelahiran Hindiawi ini sebagai tanah airnya dan semua orang asing yang rela untuk dinaturalisasi sebagai orang Indonesia.

Ralph Waldo Emerson, Setiap orang adalah pahlawan dan ilham bagi seseorang, dan bagi orang itu apapun yang dikatakannya mempunyai nilai membangun.

R. A. Kartini, Kami sekali-kali tidak mau membuat murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang Jawa-Eropa. Dengan pendidikan bebas, kami bermaksud pertama-tama membuat orang Jawa menjadi orang Jawa sejati, yang menyala-nyala dengan cinta dan semangat terhadap nusa dan bangsanya, dengan mata dan hati terbuka terhadap keindahan serta skebutuhannya ! Kami mau memberikan kepada mereka segala yang baik dari kebudayaan Eropa, bukan untuk mendesak atau mengganti keindahan mereka sendiri, melainkan untuk menyempurnakannya !

Samuel Jacob Ratulangi, Tou Timou Tumou Tou (manusia hidup untuk memanusiakan manusia).

Al Quran, ...Almasih Isa putra Miryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan sala seorang daripada orang-orang yang dekat (kepada Allah).

Golongan Sufi (Penganut Mistik Islam), Yesus adalah suri teladan dari seorang manusia yang sempurna dan contoh seorang guru sejati yang mengungguli segala sesuatu.

Mohandas Gandhi, aku bisa katakan bahwa Yesus berdiam dalam hatiku, tempat dari salah satu guru terbesar yang telah membuat pengaruh yang sangat kuat dalam hidupku. Tinggalkanlah orang-orang Kristen sejenak. Aku akan mengatakan kepada umat Hindu bahwa kehidupan kalian tidak akan lengkap kecuali kalau kalian menaruh hormat untuk mempelajari ajaran-ajaran Yesus.

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.

C. S. Lewis, Pekerjaan seorang Beethoven dan pekerjaan seorang wanita juru sapu manjadi rohani dalam keadaan yang persis sama, yakni jika dipersembahkan kepada Allah, jika dilakukan dengan rendah hati "seperti untuk Tuhan". 

"Payah-payah dilamun ombak, tercapai juga tanah tepi." Meski bekerja jauh dari laut, tancapkan warisan pepatah bijak itu dilahan apapun yang kita kerjakan.

Wednesday, April 1, 2015

ISA - Chairil Anwar



ISA

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah ?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ingin segera

mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah


CHAIRIL ANWAR

Thursday, January 30, 2014

S E N Y U M A N

Bukan karena hidup bahagia maka kamu tersenyum, tetapi karena kamu tersenyum, hidup menjadi bahagia…

Bukan karena semua orang bersahabat maka kamu tersenyum, melainkan karena kamu tersenyum, semua orang menjadi bersahabat…

Bukan karena pekerjaan menyenangkan maka kamu tersenyum, melainkan karena kamu tersenyum, pekerjaan jadi menyenangkan...

Bukan karena keluarga harmonis kamu tersenyum, melainkan karena kamu tersenyum, keluarga menjadi harmonis…

Bukan dunia yang menciptakan senyuman, melainkan senyuman yang menciptakan dunia !
 
Sumber : Buku 100 Kisah Cekak yang Membuat Bijak – Xavier Quentin Pranata, hal 61-62.

R E S I K O



Ketika engkau baik hati, biasa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; namun, berbaik hatilah.
Ketika engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; namun jujur dan terbukalah.
Ketika engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain merasa iri; namun berbahagialah.
Ketika sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati; namun, jadilah sukses.
Hal yang engkau bangun selam bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; namun, bangunlah.
Kebaikan yang sudah engkau lakukan hari ini, mungkin saja besaok sudah dilupakan oleh orang lain; namun, berbuat baiklah.
Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.


Sumber : Buku 100 Kisah Cekak yang Membuat Bijak – Xavier Quentin Pranata, hal 59.

Monday, May 13, 2013

Kata-Kata Bijak dalam Buku Harus Bisa ! -seni memimpin ala SBY-, Dino Patti Djalal



“WHEN YOU WHOLEHEARTDLY ADOPT A “WITH ALL YOUR HEART” ATTITUDE AND GO OUT WITH THE POSITIVE PRINCIPLE, YOU CAN DO INCRIDIBLE THINGS.” –NORMAN VINCENT PEALE-


BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANF ENERGI POSITIFNYA JAUH LEBIH BESAR MELEBIHI ENERGI NEGATIFNYA. –DINO PATTI DJALAL-

PENYAKIT BANGSA KTA YANG PALING PARAH ADALAH MENTALITAS KALAU BISA DIPERSULIT KENAPA DIPERMUDAH. –SBY-

SEMUA ORANG-APAPUN PENDIDIKAN DAN PEKERJAANNYA-DAPAT MENJADI PEMIMPIN, NAMUN IA HARUS BISA BERADAPTASI TERHADAP TUNTUTAN TUGAS BARUNYA. –DINO PATTI DJALAL-

BAHWA SEGENAP PERSOALAN HENDAKNYA DIHADAPI DENGAN IMAN. JANGAN MENJATUHKAN MARTABATMU SENDIRI KARENA GILA HARTA, MENYALAHGUNAKAN KEKUASAAN, DAN TIDAK DAPAT MENGENDALIKAN NAFSU. –PANGLIMA BESAR JEND. SOEDIRMAN-

GREAT LEADERS ARE ALMOST ALWAYS GREAT SIMPLEFIERS, WHO CAN CUT THROUGH ARGUMENT, DEBATE, AND DOUBT, TO OFFER A SOLUTION EVERYBODY CAN UNDERSTAND. –JEND. COLIN POWELL-

SEMUA ORANG BISA PINTAR BERTEORI, JAGO BERPIDATO, MAHIR BERKOMENTAR, LIHAI BERDEBAT DAN PANDAI MENCARI POPULARITAS. NAMUN TIDAK SEMUA ORANG BISA MENYELESAIKAN KONFLIK, MERANGCANG KEBIJAKAN, MENCARI SOLUSI, MENANGANI MASALAH-MASALAH NASIONAL YANG SANGAT KOMPLEKS. –DINO PATTI DJALAL-


THE MOS POWERFULL WORDS IN CREATIVE THINGKING :
WHAT IF ? WHY NOT ? WHAT ELSE ? WHAT MORE ?

PEMIMPIN HARUS MENYELESAIKAN MASALAH SECARA EFEKTIF, NAMUN JUGA DENGAN ELEGAN DAN BERMARTABAT – LEADERSHIP LESSON-

AKU INGIN BERCAMPUR DENGAN RAKYAT. ITULAH YANG MENJADI KEBIASAANKU. AKAN TETAPI AKU TIDAK DAPAT LAGI BERBUAT DEMIKIAN. SERINGKALI AKU MERASAKAN BADNKU SEPERTI LEMAS, NAPASKU AKAN BERHENTI APABILA AKU TIDAK BISA KELUAR DAN BERSATU DENGAN RAKYAT JELATA YANG MELAHIRKANKU. –SOEKARNO-

KRISIS INI DAPAT DIATASI DENGAN MNEMBERIKAN KEPADA NEGARA PEMIMPIN YANG DIPERCAYA RAKYAT ! OLEH KARENA KRIOSI INI MERUPAKAN KRISIS DEMOKRASI, MAKA PERLULAH HIDUP POLITIK DIPERBAIKI, PARTAI-PARTAI MENGINDAHKAN DASAR-DASAR MORL DALAM SEGALA TINDAKANNYA. -MOHAMMAD HATTA-

DI MATA RAKYAT DIMANAPUN, PEMIMPIN YANG SEDERHANA DAN RENDAH HATI ADALAH CERMINAN KEAGUNGAN, PERTANDA BAHWA IA MENGABDI PADA RAKYAT BUKAN MEMPERKAYA DIRI.
I’TS ALWAYS BETTER TO UNDERPROMISE AND OVERDELIVER. –GITA WIRIJAWAN-

TRUE MORALITY CONSIST NOT IN FOLLOWING THE WELL-BEATEN TRACK, BUT IN FINDING OUT THE TRUE PATH FOR OURSELVES AND IN FEARLESSLY FOLLOWING IT. –MAHATMA GANDHI-

Yang paling penting dalam berpolitik adalah Akhlak. Politik yang berakhlak berarti ‘melakukan segala sesuatu dengan tujuan baik, itikad baik, dan dengan hati yng bersih.’ Kalau pemimpin sudah kehilangan akhlak, maka ia akan buta dalam membuat keputusan yang keliru dan tidak bermoral.seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan tidak berarti harus kehilangan kesantunannya. Tenggang rasa, menghomati orang lain, dan menahan ucapan yang tidak baik juga cerminan dari akhlak. –SBY-


SEVEN SOCIAL SINS ( TUJUH DOSA SOSIAL)
POLITICS WITHOUT PRINCIPLE
WEALTH WITHOUT WORK
PLEASURE WITHOUT CONSCIENCE
KNOWLEDGE WITHOUT CHARACTER
COMMERCE WITHOUT MORALITY
SCIENCE WITHOUT HUMANITY
WORSHIP WITHOUT SACRIFICE
QUOTED BY MAHATMA GANDHI in Young India, 1925


IF YOU KNOW THE ENEMY AND KNOW YOURSELF, YOU NEED NOT FEAR THE RESULT OF A HUNDRED BATTLES. IF YOU KNOW YOURSELF BUT NOT THE ENEMY, FOR EVERY VICTORY GAINED YOU WILL ALSO SUFFER A DEFEAT. IF YOU KNOW ENEMY AND OR YOURSELF, YOU WILL SUCCUMB IN EVERY BATTLE. –SUN TZU-


ANY MAN OR INSTITUTIO THAT TRIES TO ROB ME OF MY DIGNITY WILL LOSE. –NELSON MANDELA-

SEMUA PEMIMPIN PASTI TAHU BAHWA SEMAKIN TINGGI IA MENCAPAI PUNCAK KEKUASAAN, SEMAKIN DERAS COBAAN YANG AKAN DIHADAPINYA.


Profesor Hasjim Djalal pernah menasehati bahwa seorang tokoh masyarakat akan selalu disorot : “Kalau kamu dan istri pergi keluar, orang akan menuduh kamu menelantarkan anak-anak kamu. Kalau kamu dan istri tinggal dirumah, orang akan menuduh kamu pemalas dan tidak mau bergaul dengan masyarakat.” Dengan kata lain, dalam politik, orang akan selalu mencari cara untuk menjatuhkan.


The essential ingredient of politics is timing. –Pierre Elliott Trudeau-
in politics, timing is everything.

Setiap pemimpin biasanya mempunyai ‘jam politik’ dikepalanya, yang hanya dia yang tahu isinya. Dengan ‘jam politik’ ini, sang pemimpin dapat mentukan kapan akan mengambil keputusan, kapan akan mengumumkannya, kapan akan menghentikan sesuatu, kapan akan mempercepat suatu tugas, dan kapan menangguhkan suatu keputusan. –Dino Ptti Djalal-