Pages - Menu

Selayang Pandang

"Tak seorang pun mampu mendefenisikan cinta dengan sempurna sebab tak seorang pun juga mampu mencintai secara sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, termasuk dalam hal mencintai kita, anda dan saya !"

About Me

My photo
Hi. saya JP / Jansn / Pur. Lahir di tanggal 17 September. Sukses terbesarku ialah ketika setiap pribadi yang mengenalku, tersenyum bahagia saat mendengar namaku dan mereka katakan, 'aku mengasihi dia'.
Showing posts with label JP's Point of view. Show all posts
Showing posts with label JP's Point of view. Show all posts

Wednesday, June 11, 2014

PERTAMA KALI SEJAK BERHAK MEMILIH




Debat perdana capres dan cawapres Republik Indonesia telah usia. Selama menyimak, saya menuliskan status pada media sosial facebook yang berisikan kritik dan berintikan saya respon kepada pasangan Capres dan Cawapres Prabowo-Hatta.
 
Bagi saya, debat perdana tersebut semakin memperjelas siapa yang selama ini mengumandangkan isu HAM yang menyerang Prabowo. Dan siapa yang dewasa serta elegan sebagai pemimpin yang nantinya merupakan representative rakyat Indonesia.


Saya bukan seorang yang fanatik sosok Prabowo dan apatis terhadap sosok Jokowi. Namun saya harus mengakui saya kagum akan sosok Prabowo dan terlebih lagi sejauh ini hati saya, batin saya begitu yakin dan percaya Prabowo tidak seperti yang selama ini dituduhkan kepadanya.

Saya takut dan saya ragu juga, akankah Prabowo menang dalam pemilihan presiden nanti. Akan tetapi, dari apa yang saya baca, dari apa yang saya dengar, sosok Prabowo itu yang saat ini dbutuhkan oleh Indonesia. Sederhananya, saya ingin menjadi tuan rumah di rumah sendiri, Indonesia. Yang tidak ingin bagaikan orang asing di Indonesia. Saya ingin suasana negara yang memang negarawan, yang melahirkan sosok-sosok idealis pembela bangsa dan berujung pada patriot-patriot calon pemimpin masa depan bangsa.


Seketika setelah usai tayangan televisi yang menyiarkan debat tersebut, tiba-tiba ada niat saya untuk berdoa. Dan inilah pertama kali saya lakukan selama menggenggam hak pemilih. Inilah isi doa saya malam itu :

Tuhan Yesus, Engkaulah yang lebih mengetahui dan mengenal Prabowo. Jika dia ikhlas, jujur dan tidak sesuai dengan isu-isu yang selama ini dtuduhkan kepada dia, berkenanlah atas niatnya menjadi Presiden.

Namun jika ia tidak baik di mata-Mua, perlihatkanlah siapa dia. Amin.



Yang sungguh-sungguh ingin saya utarakan seperti ini :

Tuhan, Engkau Maha Mengetahui, Engkau Maha Mengenal setiap Ciptaan-Mu, termasuk Prabowo.

Saya sangat kagum bahkan terkesan membela Prabowo. Namun saya tidak membenci lawannya. Saya tidak ingin hidup dinegara yang menyuarakan Bhineka Tunggal Ika, menjadikannya sebagai Semboyan negara namun tidak mampu mengaplikasikannya. Saya ingin marah ketika kehidupan bersaudara di Maluku dihancurkan. Saya merasa sedih, ketika berjalan ditemani ketakutan padahal saya berada dirumah sendiri. Saya menyesal ketika saudara-saudara saya diseberang sana menganggap mereka istimewa padahal negara ini merdeka karena anugerah Tuhan.

Apabila Prabowo merupakan sosok yang ikhlas, jujur, bersih dan baik menurut-Mu, izinkanlah ia, berkenanlah agar ia menjadi presiden. Ketuklah seluruh pintu hati, curahkanlah hikmat kepada seluruh ciptaan-Mu untuk memilih ia. Jadilah yang terbaik menurut-Mu.

Dan bagi saya, yang sering membela Prabowo lewat media social ataupun saat berinteraksi dengan sesama, berikanlah hikmat-Mu agar saya memperkatakan yang benar, yang seturut kehendak-Mu. Tidak menimbulkan wacana atau polemik yang hanya sekedar untuk mempengaruhi sesama.

Saturday, April 26, 2014

Menanggapi Isu yang diarahakan ke PRABOWO



Pemilu (Pemilihan Umum) Presiden semakin dekat. Hanya hitungan hari. Dua sosok yang cukup popular di kalangan masyarakat ialah Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Hal ini tidak dapat dipungkiri, sebab bedasarkan hasil beberapa lembaga survey.

Dalam tulisan ini, saya ingin mencoba menganalisa beberapa isu yang diarahkan kepada PRABOWO menjelang Pemilu Presiden. Di antaranya, isu HAM (Hak Asasi Manusia) 1998 dan ada ketakutan terjadinya rezim diktaktor seperti Era Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Tulisan saya ini tidak ditunggangi oleh siapapun, saya juga tidak dibayar oleh siapapun.

Langsung saja pada isu yang pertama. Isu HAM. Ada dua pemikiran yang ingin saya kemukakan dalam tulisan ini. (1) Mungkin saja Prabowo melakukan pelanggaran HAM itu secara langsung atas inisiatifnya sendiri. (2) Mungkin saja Prabowo merupakan tumbal dari sebuah kebijakan yang berujung pada pelanggaran HAM.

Mungkin saja Prabowo melakukan pelanggaran HAM. Apabila hal ini benar, apakah ada keuntungan atau adakah kepentingan Prabowo dengan melakukan hal tersebut ? Meskipun pada saat itu, beliau memegang suatu jabatan yang cukup penting di bidang militer. Sebab sejauh ini tidak ada informasi akurat ataupun informasi sepintas bahwa Prabowo menikmati ‘hasil’, entah apa, setelah melakukan hal tersebut. 

Selanjutnya, Mungkin saja Prabowo merupakan tumbal dari sebuah kebijakan yang berujung pada pelanggaran HAM. Hal ini, sangat mungkin. Hal ini, bisa saja terjadi. Jika melihat jabatan yang saat itu dipegang oleh Prabowo di bidang militer dan sebagaimana pengetahuan secara umum, yang mana dalam bidang militer terdapat garis komando yang sangat dihargai bahkan ada kesan tidak akan pernah terbantahkan ketika perintah itu diturunkan maka hal ini mungkin. Ibarat kasus korupsi yang tidak mungkin dilaksanakan hanya oleh seseorang namun pasti ada keterlibatan orang lain. Siapa yang menjadi pemberi komando atau perintah, saya tidak ingin berwacana.

Terlepas dari siapa saja yang terlibat atau siapa yang berperan sebagai pemeran utama atau aktor intelektual dalam peristiwa ini, isu HAM ini selalu diarahkan kepada Prabowo pada situasi-situasi penting. Salah satunya saat Prabowo akan maju menjadi Calon Presiden Republik Indonesia pada Pemilu Presiden tahun 2014 ini. Saya mencurigai, adanya keterlibatan dunia internasional atau campur tangan pihak asing, diluar Indonesia yang turut mengumandangkan isu Pelanggaran HAM ini. Menurut pemikiran saya, pihak asing itu adalah Amerika. Kenapa demikian ? Sebab isu HAM itu merupakan isu yang sangat hangat atau sangat mudah digaungkan oleh Amerika. Saya menilai ada ketakutan tersendiri bagi Amerika apabila Prabowo menjadi Presiden Republik Indonesia. Ketakutan apa ? (1) apabila Prabowo menjadi Presiden dan menerapkan Ekonomi Kerakyatan yang akan meminimalisir kesenjangan sosial diantara masyarakat Indonesia maka ekonomi neo-liberal milik Amerika yang sedang gencar-gencarnya ingin diterapkan di Indonesia pastinya akan gugur dengan sendirinya. (2) apabila Prabowo menjadi Presiden ada kemungkin beliau melakukan renegosiasi kontrak bagi perusahan-perusahan asing yang selama ini telah mengambil keuntungan yang tiada bertara di bumi pertiwi ini. Terutama PT. Freeport. Hal ini dapat terlihat dari sikap patriotism seorang Prabowo yang ingin mengembalikan kejayaan Indonesia.

Kemudian pada isu yang kedua. Ada ketakutan oleh sebagian masyarakat, akan terjadi sistem diktaktor, sewenang-wenang seperti pada Era Orde Baru apabila Prabowo menjadi Presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014 ini. Pada isu ini, saya katakan betapa naifnya pihak yang mengumandangkan isu ini. Dalam sistem pemerintahan Indonesia saat ini, yang dikatakan oleh beberapa pihak dari akademisi bahwa sistem yang dianut kini bukan lagi presidensil akan tetapi Mix Government yang artinya kedudukan eksekutif dan legislatif sama kuat, maka sangat mustahil apabila kediktaktoran itu akan tercipta kembali. Ditambah lagi dengan posisi pro pemerintah (mungkin saja koalisi) dan oposisi yang tidak absolut maka semakin mustahil ketakutan akan kediktaktoran terwujud. 

Analisa lainnya, saat ini Partai Gerindra hanya ingin berkoalisi guna memenuhi target Presidential Treshold 25% agar dapat mengajukan Prabowo sebagai Calon Presiden, tidak ingin koalisi yang gemuk. Anggaplah Gerindra akan menguasai sekitar 30% parlemen. Dengan sistem Mix Government dimana kedudukan Eksekutif (pemerintah – Prabowo bila menjadi presiden dan Amin) sejajar dengan legislate (parlemen), ditambah koalisi dan oposisi yang tidak absolut, dan apabila Gerindra hanya berkoalisi dan menguasai hanya 30% parlemen maka Prabowo sangat mungkin terkena Impeachment  / pemakzulan oleh 70% parlemen yang tidak dikuasai Gerindra bahkan mungkin saja koalisi Gerindra akan pecah kongsi dan turut melakukan impeachment kepada Prabowo jika Prabowo melaksanakan sistem kediktaktoran.


Bijaklah sebagai rakyat Indonesia. Jangan terus mau ditunggangi pihak lain hanya dengan isu-isu yang tidak berkelas. Bahkan dapat memecahbelahkan kesatuan kebhinekaan kita.

Friday, July 5, 2013

Sembuhkah luka kita ?




Ketika kita membuka pertengkaran antara masa lalu dan masa sekarang, kita akan menemukan bahwa kita telah kehilangan masa depan. Demikianlah yang dikatakan Winston Churchill.
Telah kita arungi masa kelam dalam tatanan kehidupan orang basudara yang setia akan pela-gandong, dimana pertikaian berdarah yang menghilangkan jutaan nyawa dan harta benda serta melahirkan perpecahan yang jelas terlihat dimasa sekarang.

Kebersamaan bukan lagi komunitas kehidupan heterogen namun kini menjadi komunitas homogen. Semuanya dipetak-petakan. Semuanya takar agar seimbang. Semuanya diperhitungkan detailnya. Kesemuanya itu hanya agar tidak menimbulkan kecemburuan dan iri hati yang berpotensi melahirkan konflik yang selalu dikumandangkan merupakan konflik horizontal.


Kini tersiar beribu kabar, kita damai.
Namun juga bertabur berjuta tanya, apakah benar telah damai tiada lagi kerusuhan, tiada lagi ketakutan yang melanda ?
Bukankah perih dan luka yang tak terlihat itu sulit disembuhkan ?
Saya korban, anda korban, kita semua adalah korban.
Siapa yang harus dituntut ? Siapa yang harus kita adili ?
Demi sebuah keadilan atas kesukaran yang pernah kita nikmati.



Luka itu masih ada. Luka itu masih tersembunyi dan mungkin takkan pernah nampak. Setiap kita memiliki cerita, setiap kita memiliki kisah yang apabila disandingkan hanya melahirkan perbedaan.

Khebinekaan kita yang terikat pela-gandong semakin samar.
Marilah kita jujur akan hal itu untuk hati kita akibat luka masa lalu.
 
Jangan terus berbohong, seakan semuanya baik-baik saja.

Yang terpendam pasti akan menguak.
Semua ingin nyaman, ingin tenang,
Semua inginkan kedamaian.


Namun apa artinya sebuah kata damai yang tercurap disertai luka perih yang telah melebam dalam nurani ?
Apabila pela-gandong itu ada, masih ada, meskipun hanya setetes, biarlah kita masohi kumpulkan setetes demi setetes bulir pela-gandong itu,
Dan menjadikannya aliran kesejukan yang menyatukan hidup orang basudara.

Sunday, May 26, 2013

Ketika HUKUM Dikompromikan




Sebagaimana yang diketahui, hukum ialah seperangkan kaidah atau aturan yang dibuat oleh pemengang otoritas yang bertujuan untuk mengatur tingkah laku kehidupan masyarakat dan memiliki sanksi yang tegas. Mungkin demikian pengertian hukum yang dapat menggambarkan dan memamaprkan sekilas tetantang apa itu hukum.

Di era modern ini, dimana sudah begitu banyak lahir para juris (ahli hukum), para sarjana hukum namun keberadaan hukum itu sendiri belum juga sesuai dengan tujuan hukum sendiri. Sehingga belakangan ini, banyak bermunculan pendapat yang mengatakan bahwa keadilan dan kepastian hukum, masih jauh dari harapan.

Mungkinkah jumlah para juris dan para sarjana hukum masih kurang dalam masyarakat ? sehingga hukum belum dapat ditegakkan serta hukum dijadikan sebagai panglima di negeri ini. Ataukah masih terlalu sedikit konstribrusi yang mereka berikan, dalam hal memberikan pemahaman hukum dan mengawal perkembangan bangsa ini sesuai aturan yang semestinya ? atau yang menakutkan, mereka yang ternyata cukup mengerti hukum, dan mungkin saja termasuk pula para juris dan para sarjana hukum, yang mengetahui adanya kelemahan-kelemahan hukum itu sendiri sehingga menjadikan kelemahan tersebut sebagai akses untuk melegalkan suatu perilaku yang tak sejalan dengan hukum ?

Segala sesuatunya sejak awal mulanya memang direncanakan dengan tujuan yang baik, termasuk saat menyusun aturan (hukum). Namun dalam pelaksaanannya (eksekusi dilapangan) tak jarang yang ditemui ialah yang bertentangan dengan hukum itu sendiri.

Dalam hukum kita mengenal adanya Larangan, Sanksi dan Dispensasi. Namun realita mengatakan bahwa saat sebuah larangan dilanggar dan ketika sanksi harusnya diberikan, inilah saat hukum mulai dapat dikompromikan. 
Haruskah pengkompromian hukum ini disebutkan sebagai suatu dispensasi sehingga dapat dibenarkan ?

Sikap dan perilaku berkompromi dengan hukum yang kian hari semakin marak terjadi baik secara tersirat maupun secara nyata. Sikap ini tentunya akan mengkerdilkan hukum itu sendiri. Sehingga pantas saja banyak sekali pendapat yang beredar bahwa hukum dewasa ini semakin sulit ditegakkan, kepastian hukum semakin sulit dicari bahkan keadilan seperti barang mewah yang sulit untuk dimilliki.

Perilaku berkompromi dengan hukum ini, yang dilakukan oleh oknum dari para juris dan para sarjana hukum tentunya merusak citra para juris dan para sarjana hukum, apalagi mereka yang dengan serius ingin menegakkan hukum dan menjadikan hukum sebagai panglima.

Apa jadinyanya ketika ‘seorang yang mengerti hukum' mulai dapat berkompromi dengan hukum sehingga seakan-akan legal ? dalam hidup selalu saja ada pilihan, namun dapatkah dibenarkan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan, apalagi yang melakukan tindakan tersebut ialah 'seorang yang mengerti hukum' ? untuk apa belajar hukum, mengerti hukum namun melakukan kesalahan yang seharusnya dapat dihindari ?

Setiap keputusan selalu ada resikonya, konsekuensinya. Mungkin tidak sekarang resikonya itu berdampak sebab penyesalan selalu datang dari belakang. Marilah lebih bijak dalam berkompromi, jangan melihat kelemahan untuk melegalkan sesuatu yang salah.

Monday, May 6, 2013

Ada yang Salah !



Ketika selesai membaca sebuah buku karangan Dr. Dino Patti Djalal – Harus Bisa ! seni memimpin ala SBY pada beberapa minggu terakhir ini, saya begitu kagum dengan pemerintah terutama Pak SBY yang begitu luar biasanya mampu memanfaatkan moment-moment kenegaraan/internasional untuk membangun citra positif bagi bangsa Indonesia. Hal ini tentunya dapat ditegaskan oleh setiap komentar/pendapat yang dikemukakan oleh pihak-pihak yang terlibat langsung pada moment-moment tersebut, dimana selalu ada kebanggaan akan Presiden SBY/Indonesia.

Namun, kebanggaan tersebut tidak sepenuh berlaku dalam negeri. Segenap pihak cenderung mengkritik pemerintah, tidak lagi sependapat bahkan ingin kedudukan Pak SBY sebagai Presiden segara dilengserkan sebelum habis masa jabatannya. Kepopuleran Pak SBY pun menurun drastis.

Kecenderungan untuk mengkritik bahkan ingin agar Pak Presiden segara turun dari puncak kepemimpinannya dikarenakan pemerintahan yang serasa semakin kacau. Korupsi semakin merajalela, hukum yang seakan belum mampu mewujudnyatakan keadilannya, ekonomi yang katanya membaik namun tidak kontras dengan realita yang selalu hadir dalam berita-berita/program (contoh orang pinggiran, salah satu program favorit saya) yang menampilkan  penderitaan, kemiskinan yang pada akhirnya memastikan adanya kesenjangan sosial yang begitu luar biasa diantara saudara sebangsa dan setanah air.

Ada yang salah, tentunya ! 
ketika perekonomian bangsa kita di mata internasional dieluk-elukkan namun masih banyak rakyat yang menderita, dilanda kemiskinan, susah dalam menjalani hidup. Ini merupakan hal yang hampir selalu dan senantiasa mewarnai layar kaca.

Otonomi daerah yang diyakini sebagai ujung tombak dalam pembangunan sehingga akan berdampak langsung pada rakyat, nyatanya belum sesuai dengan tujuannya. Otonomi daerah serasa merupakan desentralisasi kekuasaan yang melahirkan penguasa-penguasa baru dan melahirkan peluang yang lebih besar bagi golongan dan kelompok tertentu untuk menguras sumber daya daerah demi tercapainya kepentingan penguasa yang tak berperikemanusiaan.
Otonomi daerah yang disertai dengan pemekaran kota/kabupaten belum sampai pada tujuan sebagaimana mestinya. Mendagri Gumawan Fausi, dalam Warta Akrab edisi Maret 2013, mengatakan bahwa 70% dari 205 DOB (daerah otonom baru) gagal. Dalam edisi ini juga diberitakan bahwa 280 orang dari 863 pasangan kepala daerah terjerat kasus hukum,  97,4% dari jumlah kepaa daerah justru pecah kongsi.

Kini dibalik kesuksesan perekonomian yang memberikan citra baik bagi bangsa ini dikancah internasional masih terdapat rakyat yang menderita. Para Stakeholder  yang harusnya menjadi kepanjangantangan untuk menyejahterahkan rakyat hingga ke pelosok negeri pun tak kunjung menuai hasil yang memuaskan.

Haruskah pemerintah pusat disalahkan ?  atau kepala daerah yang disalahkan ? atau juga rakyat yang disalahkan karena salah memilih pemimpinnya, baik di daerah, di pusat, dan wakilnya di DPR ? Ataukah akan selalu menyalahkan system ?  Biarlah rakyat yang menilai dan memberi hukuman pada pemilu berikutnya. Baik itu Pemilu Presiden, Pilkada-pilkada, dan pemilu legislative.

Sekiranya sebaik apapun sistemnya, namun yang menjalankan sistem tersebut  bermental bobrok, pastinyalah akan berujung pada kehancuran.
 Jadi sudah selayaknya rakyat makin bijak, makin teliti, dan makin pintar dalam menggunakan hak pilihnya. Jangan lagi tergiur oleh uang yang dijanjikan, atau larut dalam janji manis politik tanpa melihat kinerja dan rekam jejak para calon.

Tuesday, April 23, 2013

Inikah Reformasi, Wahai "Sang Mahasiswa” ?



Calon intelektual, itulah sebutan yang sering dilekatkan pada Mahasiswa. Orang-orang yang menimbah Ilmu pada jenjang perguruan tinggi. Sebutan yang luar biasa bukan ?
Sangat bangga memang bila melihat sepak terjang “Para Mahasiswa” dalam mengawal sistim pemerintahan bahkan sanggup melengserkan suatu puncak kekuasaan di negeri ini. Hal ini dapat terlihat dengan hancurnya rezim Orde Baru dengan Presiden saat itu yakni, Soeharto akibat demonstrasi besar-besaran oleh “Para Mahasiswa” pada 1998.
Suatu cita-cita yang sangat amat mulia bagi bangsa dan negara ini dalam upaya melahirkan Reformasi. Tidak ada yang salah dengan perjuangan meraih cita-cita ini. Patut diyakini bahwa dasar dari perjuangan gunan melahirkan reformasi ialah kecintaan akan bangsa tercinta, Indonesia.
Reformasi telah terlahir. Reformasi telah diperoleh. Meskipun harus ada yang menjadi korban dan dikorbankan tetapi Reformasi telah lahir. Perjuangan yang luar biasa bukan dari “Para Mahasiswa” ?
Kini setelah reformasi diperoleh, kehidupan semakin sulit. Keamanan dan ketertiban semakin tidak terjamin. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Dan yang begitu popuker ialah korupsi kian merajalela, bahkan korupsi diindikasikan kini telah menjadi suat mata pencaharian.
Kemiskinan begitu sering tergambarkan pada layar-layar televisi kita. Kerusuhan, bentrokan antara saudara-saudara setanah air marak terjadi. Banyak orang merasa dirinyalah yang paling benar, paling berkuasa dan sewenang-wenang. Demonstrasi  hampir setiap hari ada. Pancasila dan UUD NRI 1945 seakan hanya merupakan symbol dalam acara-acara formal. Ketakutan akan perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, dirasa hampir diseluruh tanah air. Hukum seakan hanya berpihak pada yang kuat, yang berduit. Terjadi kesenjangan social yang begitu luar biasanya.
“Mahasiswa” senantiasa ada untuk rakyat, memperjuangkan aspirasi rakyat, membela hak-hak rakyat dengan segala bentuk demonstrasinya. Rakyat yang mana, yang kalian wakili wahai “Mahasiswa” ? Rakyat yang mana, yang kalian belah haknya, wahai “Mahasiswa” ? Rakyat yang mana yang mengharapkan kalian, membela, memperjuangkan nasib mereka ?
Wahai “Mahasiswa”, kalian selalu dan senantiasa mengatasnamakan rakyat dalam berdemonstrasi namun sebagian besar dampak demonstrasi kalian hanyalah kekacauan, keributan, bentrokan, kemacetan, kerusakan. Apakah semua itu merupakan titipan rakyat yang kalian wakili ?
“Mahasiswa”, kalian terlalu bangga dengan catatan sejarah yang pernah kalian torehkan. Kalian mencoba membenarkan bahkan meghalalkan berbagai cari guna pembenaran seluruh sikap dan tindakan kalian yang mempertontonkan kebobrokan, kebodohan intelektual, ketidaksopanan kalian dengan mengatasnamakan rakyat.
 “Wahai Mahasiswa”, Kesusahan di masa sekarang, penderitaan sejak reformasi digulirkan, bukankah merupakan bagian dari hasil perjuangan kalian dahulu ? Inikah sejarah yang ingin kalian torehkan ? Inikah tujuan reformasi yang kalian idam-idamkan bagi bangsa ini ?
Kini masih layakkah kalian berbangga dengan pencapaian kalian ? Hanya tiba digerbang reformasi sajakah pengawalan kalian ?
Tak sedikit yang menyesal pernah memperjuangkan reformasi.
Tak sedikit yang yang merindukan suasana sebelum reformasi.
Tak banyak peluh derita, tangis air mata sebelum reformasi.
Kini tak sedikit peluh derita bercucuran.
Kini tak sedikit tangisan air mata bergelinang.
Mungkinkah kalian, “Mahasiswa”, kini hanya diperalat oleh para pemimpin golongan tertentu ? Mungkinkah kalian, kini merupakan perjuang golongan tertentu ? Sehingga kepentingan bangsa ini bukan lagi menjadi prioritas pengawalan dan perjuangan “calon intelektual”.
Bila kemungkinan itu benar adanya, maka :
1.       "Kalian" adalah penyebab, yang melahirkan kesusahan dan penderitaan bangsa ini.
2.       "Kalian" tidak layak mengatasnamakan rakyat manapun yang merupakan bagian dari bangsa ini.
3.       "Kalian" hanyalah calon intelelektual perusak masa depan bangsa ini.

Jadi janganlah lagi Kalian larut dalam kebanggaan yang belum sesuai dengan tujuannya. Sekarang, mari kita berbenah, dan bersama-sama dengan generasi saat ini untuk berkontribusi secara positif demi saudara-saudara kita, demi bangsa ini, dan demi Merah Putih.

Janganlah sekali-kali kita nodai Merahnya Keberanian dan Putih Sucinya Sang Saka.

Janganlah kita biarkan Sang Garuda malu untuk tegakkan kepalanya.
Biarlah Kebhinekaan Kita tetap mengudara, dan NKRI terpatri dalam sanubari kita.