Pages - Menu

Selayang Pandang

"Tak seorang pun mampu mendefenisikan cinta dengan sempurna sebab tak seorang pun juga mampu mencintai secara sempurna. Hanya Tuhan yang sempurna, termasuk dalam hal mencintai kita, anda dan saya !"

About Me

My photo
Hi. saya JP / Jansn / Pur. Lahir di tanggal 17 September. Sukses terbesarku ialah ketika setiap pribadi yang mengenalku, tersenyum bahagia saat mendengar namaku dan mereka katakan, 'aku mengasihi dia'.

Thursday, January 30, 2014

Yth Walikota-Wakil Walikota Ambon


Ucapan terima kasih saya persembahkan beriringan kebanggaan kepada Bapak bila telah menyempatkan waktu membaca tulisan ini.
Sebagai seorang anak/warga kota yang sejak lahir, tumbuh dan dibesarkan dilingkungan kota Ambon, sudah sepatutnya memiliki kerinduan dapat melihat kota Ambon yang berkembang, semakin maju, dan tentunya tetap dan senantiasa mengedepankan rasa sebagai orang basudara yang menjunjung tinggi nilai Pela-Gandong.
Dalam tulisan ini, izinkan saya menyampaikan pandangan saya terkait beberapa tantangan yang dihadapi kota Ambon saat ini tanpa sedikit pun bermaksud untuk menggurui. 

Diantaranya :

Masalah Sosial Budaya
Kota Ambon di titik-titik/daerah-daerah tertentu, masih cukup rentan dengan konflik. Entah itu, antar kampung ataupun antar masyarakat dalam satu kampung. Hal ini dirasa berpeluang besar terjadi karena tergerusnya nilai toleransi antar sesama warga sebagai akibat dari arus urbanisasi dari kabupaten/kota sekitar kota Ambon bahkan propinsi disekitar propinsi Maluku. Dengan kata lain, semakin banyak masyarakat pendatang yang tidak menekan populasi masyarakat asli tanpa mencoba memahami nilai Pela-Gandong yang dimiliki masyarakat asli.  Peran tokoh-tokoh pemuda/masyarakat dalam merangkul masyarakat pastinya semakin kecil. Apalagi sebagian besar masyarakat yang melakukan urbanisasi ke kota Ambon tidak didasari pekerjaan yang tetap sehingga menimbulkan pengangguran. Inilah yang dapat menjadi faktor penyebab timbulnya konflik.
Langkah yang sekiranya perlu dilakukan pemerintah yakni melakukan pendataan detail. Sehingga dapat mengetahui lonjakan arus urbanisasi di kota Ambon selain berupaya membangun lapangan kerja. Kemudian dapat menghidupkan kembali acara adat seperti panas pela sehingga dapat memberikan pemahaman akan nilai Pela-Gandong.

Masalah Kemacetan
Kemacetan di kota Ambon mungkin kini dapat dikatakan telah menjadi sebuah trend. Hampir setiap sudut kota Ambon. Apalagi pada saat akan mulainya aktivitas di pagi hari dan menjelang selesainya aktivitas di sore hari.
Ada beberapa faktor yang dapat diindikasikan sebagai faktor penyebab terjadinya kemacetan. Yang pertama, perilaku sebagian besar masyarakat yang tidak sabar, sulit untuk mau mengalah saat berkendara menjadi faktor utama penyebab kemacetan. Baik itu untuk kalangan pengendara angkutan kota, angkutan pribadi bahkan para ojek. Dan yang paling parah perilaku berkendaraanya ialah anak muda, bahkan terkesan “seng tau atorang”.
Yang kedua, parkiran yang tidak tertata rapi, memenuhi badan jalan. Hampir semua pengendara seenaknya saja parkir, mulai dari angkutan kota, angkutan pribadi bahkan angkutan dinas pun sembarangan dalam parkir.
Ada beberapa saran untuk menyikapi hal ini :
·         Cara perparkiran yang menyerong (15­o atau 45o) memang cukup baik dalam hal menampung jumlah kapasitas kendaraan yang parkir. Namun cukup memakan badan jalan (hampir ½ jalan apabila parkir 45o; hampir sepertiga jalan bila parkir 15o) dan cukup memakan waktu saat akan meninggalkan parkiran.
Sedangkan untuk parkir sejajar (langsung menepi ke bahu jalan) kapasitas parkir tidak sebanyak parkir 45o / 15o, hanya sekitar ½ dari kapasitas 45o / 15o. Tetapi waktu yang diperlukan saat dan setelah melakukan parkir sangat singkat disbanding dengan parkir menyerong. Parkir sejajar juga hanya menggunakankurang dari sepertiga jalan. Sehingga parkir sejajar mungkin lebih efisen diterapkan sebab arus kendaraan pada jam-jam produktif di hari kerja itu cukup tinggi.
·         Ada titik-titik tertentu di kota Ambon yang sangat macet pada saat (pagi) dan setelah  aktivitas (sore). Diantaranya Jalur Citra-Galunggung, Trikora-Batu Gantung, Mesjid Alfatah-Waihaong, PGRI-lampu merah Polsek Sirimau (daerah perkantoran), Jembatan Pasar Mardika-Ongko Liong.
Untuk Jalun Citra-Galunggung. Pertama, lajur menuju keluar kota dari arah Citra, mulai dari depan Dealer Honda tidak diperbolehkan parkir pada saat akan/pulang kantor (sekitar jam 7-9 pagi / 3-5 sore hari kantor) (Keberadaan kantor swasta, Mandala Finance kalau tidak salah, menggunakan bahu jalan untuk parkir sebgian besar kendaraannya, memakan lebih dari seperempat jalan). Selanjutnya keberadaan terminal bayangan di Batu Merah harus ditinjau kembali keberadaannya. Sebab akses menuju Batu Merah dalam saja sudah padat, ditambah adanya terminal bayangan maka kemacetan pasti terjadi. Alangkah baiknya dicarikan trayek lain bagi angkutan daerah itu (dengan kata lain trayek itu dihapus) atau pada saat akan/pulang kantor tidak boleh ada terminal bayangan tersebut. Kemudian tidak diperbolehkan adanya parkiran sebelum jembatan Batu Merah, sepanjang jalan menuju/dari Galunggung dan menuju Batu Merah bahwa. Dan untuk ektivitas penyebrangan masyarakat, baiknya dibangun jembatan penyebarangan.Titik-titik ini menjadi sangat penting dan sangat rawan kemacetan karena merupakan akses yang utama kendaran dari/menuju pusat kota.
Untuk Trikora-Batu Gantung. Baiknya tidak diperbolehkan adanya parkiran saat akan/pulang kantor. Selain bagaimana pemerintah berupaya mengembalikan arus lalu lintas seperti dulu.
Untuk Alfatah-Waihaong. Hal yang sama, yakni tidak diperbolehkan parkir atau lakukan parkir sejajar hanya pada bahu jalan dari arah Waihaong menuju Mesjid Alfatah.
Untuk PGRI-Lampu merah Polsek Sirimau. Baiknya tidak diperbolehkan melakukan parkiran (berhenti). Terutama pada jalan setelah Bank BCA, kantor Gubernur-Depan Balai Kota. Parkiran 45o di sisi kanan jalan depan Kantor Kejaksaan-depan Balai Kota itu, sepertinya perlu ditinjau kembali.
Untuk Jembatan Pasar Mardika-Ongko Liong. Bagaimana penataan para pedagang agar tidak memenuhi badan jalan. Tentunya butuh pendekatan persuasive yang ekstra (sebagaimana  yang dilakukan Jokowi, melakukan pendekatan dengan turun ke lapangan, mengajak diskusi dengar para pedagang dalam undangan makan malam yang dilakukan puluhn kali) dan ketegasan dari pemerintah dengan mengesampingkan kepentingan-kepentingan yang mungkin saja ada. Sehingga jalur ini juga dapat digunakan sebagai akses dari/menuju pusat kota.
·         Mengenai transportasi massa, sepertinya pemerintah kini mulai keberadaan angkutan kota yang kecil itu diganti dengan kendaraan berupa mini bus/bus. Sehingga meminimalisir besarnya jumlah angkutan kota. Seperti yang saat ini dipersiapkan propinsi DKI Jakarta, dimana menggunakan sistem saham bagi pengusaha-pengusaha, mungkin dalam sebuah perusahan daerah. Sehingga menekan pengguna kendaaran pribadi.
·         Mengenai tempat pemberhentian sementara angkutan kota, dapat dilakukan dengan pembebasan area sekitar 25-50 meter sebelum/sesudah tikungan atau sebelum atau sesudag lampu merah di titik-titik tertentu guna melancarkan aktivitas para penumpang.

Masalah Pariwisata
Hampir setiap wisatawan yang datang ke Ambon, selalu ingin ke pantai Natsepa. Padahal pantai Natsepa bukan wilayah administrasi kota Ambon. Betapa ruginya kota Ambon yang hanya dijadikan “transit”. Padahal kota Ambon masih memiliki daerah-daerah wisata dan daerah-daerah potensi wisata. Pantai sebagai objek utamanya cukup banyak ditemui dengan mudah. Pemandangan dari pegunungan sangat mungkin untuk kita dapati. Hanya saja perlu penataan, perlu pengembangan, dan yang terpenting membangun rasa kepedulian serta kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat guna pengembangan pariwisata di kota Ambon.
Jalan dari/menuju kota Ambon dapat dijadikan sebuah perjalanan wisata dengan objek utamanya teluk Ambon. Bangunan-bangunan liar yang dibangun dipinggiran-pinggiran jalan perlu ditertibkan.

Kota Ambon dengan kondisi geografisnya memiliki dataran rendah (pesisir pantai) hingga dataran tinggi (daerah pegunungan) sudah selayaknya menjadi sebuah kota dengan pariwisata yang lengkap yang dapat ditawarkan bagi wisatawan sehingga tidak menutup kemungkinan menjadi sumber utama APBD. 

Masalah Olahraga
Bapa, kota Ambon seakan menjadi pilot bagi perkembangan hampir seluruh cabang olahraga di Maluku. Oleh karena itu Bapa, mohon diperhatikan sarana dan prasarana olahraga di kota Ambon beserta dengan atlet-atletnya. Sebagai contoh, ketika event keolahrgaan daerah, banyak atlet berpotensi meraih medali yang mengikutsertakan diri mewakili kota/kabupaten lain. Sebab biaya yang ditawarkan bagi atlet cukup besar.

No comments:

Post a Comment